Sore itu, udara di Kota Palangkaraya Baru terasa hangat. Beberapa relawan dari komunitas dakwah Wahdah Islamiyah sudah berkumpul di halaman markas, mengenakan rompi biru muda bertuliskan “Wahdah Peduli”. Di depan mereka, tumpukan karung beras, minyak goreng, gula, dan mie instan tersusun rapi. Hari ini, mereka akan menyalurkan paket sembako untuk kaum dhuafa. para janda tua, buruh harian, dan keluarga yang terdampak ekonomi setelah harga-harga naik.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, mohon tetap antri, insya Allah semuanya akan kebagian,” ujar salah satu panitia dengan senyum sabar.
Satu per satu warga mendekat. Di antara mereka ada yang di antar langsung sembakonya, atas nama Try Setia Adi seorang bapak berusia 54 tahun yang hidup sebatang kara. Tangannya bergetar saat menerima paket sembako dari relawan.
“Terima kasih, Nak… semoga Allah balas kebaikanmu,” katanya lirih, sambil tersenyum bahagia.
Relawan muda itu menunduk haru. “Doakan kami juga, Nek, agar bisa terus berbagi.”
Di sudut lain, beberapa anak kecil ikut membantu membawa paket ke rumah-rumah lansia yang tak mampu datang ke markaz. Meski sederhana, kegiatan itu membawa suasana penuh kehangatan dan persaudaraan.
Menjelang siang, seluruh paket telah terbagi. Ketua panitia, Ustaz Arif Noor, menyampaikan pesan singkat di akhir kegiatan:
“Berbagi itu bukan soal banyaknya harta, tapi ketulusan hati. Sembako ini mungkin kecil nilainya, tapi semoga besar manfaatnya di sisi Allah.”
Menjelang malam hari, para relawan pulang dengan lelah yang manis. Mereka tahu, di balik karung-karung sembako itu tersimpan banyak doa-doa dari orang-orang yang merasa diperhatikan, meski dalam kesederhanaan.

