Dakwah adalah pekerjaan para nabi. Ia bukan tempat bermain. pula bukan medan eksperimen dan bukan panggung bagi orang yang belum siap.
Dakwah adalah medan yang suci, tempat lahirnya para mujahid ilmu, tempat ditempanya keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan hati. Maka muncul pertanyaan tajam yang wajib direnungkan setiap penuntut ilmu :
Apakah pantas seorang da’i terjun ke medan dakwah sementara ia tidak bisa apa-apa ? Dakwah Tidak Memerlukan Sosok Sempurna, Tapi Tidak Menerima Sosok yang Ceroboh. Islam tidak menuntut seorang da’i menjadi sempurna.
Nabi ﷺ bersabda :
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa setiap yang memiliki ilmu, walau sedikit, boleh menyampaikan. Namun, ini bukan izin untuk masuk ke medan dakwah tanpa bekal apa pun, lalu berbicara tentang perkara besar tanpa dasar.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata :
“Tidak boleh seseorang memulai berdakwah sementara ia jahil. Karena ia akan merusak lebih banyak daripada memperbaiki.”
Maka, dakwah menerima yang sedikit ilmunya selama ia tidak melampaui batas, tapi tidak menerima yang bodoh yang nekat berbicara tanpa ilmu.
Medan Dakwah adalah Medan Ilmu, Bukan Medan Gagah-Gagahan
Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya :
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
“Katakanlah, Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah di atas bashirah (ilmu yang jelas).”
(QS. Yusuf: 108)
Perhatikan: “ala bashirah” di atas ilmu.
Seorang da’i tanpa ilmu ibarat :
• Kapten kapal yang tidak tahu membaca kompas.
• Dokter yang tidak tahu anatomi.
• Prajurit yang tidak membawa senjata.
Bahkan lebih berbahaya dari itu, karena yang ia rusak adalah agama manusia.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :
“Orang yang memberi fatwa tanpa ilmu, kerusakannya lebih besar dari dokter yang keliru.”
Karena kesalahan dokter hanya mencelakai jasad, sedangkan kesalahan da’i mencelakai agama dan akhirat.
Apakah Pantas Da’i Tidak Bisa berbuat Apa-Apa ?
1. Jika Tidak Bisa Ilmu Tidak Pantas
Seorang da’i yang tidak mengerti aqidah, tidak mengerti halal-haram, tidak paham dalil, tidak bisa membedakan sunnah dan bid’ah tidak pantas masuk medan dakwah.
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isra: 36)
Ini adalah larangan untuk berbicara tanpa ilmu sementaranya dakwah adalah puncak pembicaraan dalam agama.
2. Jika Tidak Bisa Beradab Tidak Pantas
Dakwah adalah akhlak sebelum retorika. Rasulullah ﷺ adalah da’i termulia karena akhlaknya termulia.
Allah berfirman :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Sungguh engkau (wahai Muhammad) berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Seorang da’i yang kasar, mudah marah, merendahkan orang, meremehkan ulama, sombong dengan sedikit ilmunya tidak pantas.
3. Jika Tidak Bisa Menahan Niat Tidak Pantas
Dakwah tanpa niat yang lurus hanya akan menjadi industri popularitas.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, riya’.” (HR. Ahmad)
Da’i yang terjun ke dakwah karena follower, like, dan panggung tidak pantas.
4. Jika Tidak Bisa Bersabar Tidak Pantas
Dakwah adalah ujian, bukan hiburan.
Allah berfirman :
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ
“Maka bersabarlah sebagaimana sabarnya para rasul yang memiliki keteguhan hati.” (QS. Al-Ahqaf: 35)
Da’i yang mudah putus asa, mudah tersinggung, mundur saat dicela tidak pantas. Namun… Ketidaktahuan Bukan Alasan Berhenti, Tapi Alasan Belajar
Dakwah bukan untuk orang yang sempurna, tetapi untuk orang yang berproses. Jika engkau tidak bisa apa-apa hari ini, maka belajarlah. Jika engkau tidak paham dalil hari ini, maka tuntutlah ilmu. Jika engkau tidak mahir berbicara, maka latihlah. Para ulama pun memulai dari nol.
Imam Syafi’i belajar dari gurunya hingga hafal ribuan dalil. Imam Ahmad mengembara ribuan kilometer untuk satu hadis. Para tabi’in memerangi kebodohan mereka dengan kesungguhan dalam belajar.
Sementara engkau… punya mushaf di rumah, punya kitab di gawai, punya majelis ilmu di setiap kabupaten, namun sering merasa “cukup” padahal masih kosong. Maka tidak pantas seorang da’i tidak bisa apa-apa jika dia enggan belajar.
Tapi sangat pantas seorang da’i memulai dakwahnya meski masih sedikit ilmunya asalkan ia :
• Tidak melampaui batas,
• Tidak bicara yang dia tidak mengerti,
• Tidak sok menjadi mufti,
• Tidak mengambil posisi di luar kapasitasnya.
Niatkan Dakwah, Tapi Sempurnakan Bekal
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)
Artinya lakukan sebisa mungkin, tapi jangan meremehkan kewajiban belajar. Dakwah tanpa ilmu adalah keberanian yang salah tempat.
Kesimpulan Penting yang Harus Ditancapkan Seorang Da’i
1. Tidak pantas seorang da’i terjun dalam dakwah tanpa ilmu yang memadai.
(Karena ia akan merusak lebih banyak daripada memperbaiki)
2. Tetapi sangat pantas seorang da’i berdakwah sesuai kapasitas ilmunya.
(Dan ini adalah kewajiban setiap Muslim)
3. Tidak pantas seorang da’i malas belajar.
(Karena dakwah adalah amanah besar)
4. Tidak pantas seorang da’i tidak menjaga akhlaknya, adabnya, dan niatnya. (Karena dakwah adalah ibadah)
Dunia ini tidak kekurangan orang yang berbicara, tapi kekurangan orang yang berbicara di atas ilmu, di atas hikmah, di atas sunnah, di atas keikhlasan.
Maka tanyakan pada dirimu:
Apakah pantas aku terjun ke medan dakwah sementara aku belum siap ?
Apakah pantas aku diam dari dakwah sementara aku tahu meski satu ayat ?
Dakwah itu jalan panjang. Siapkan bekalmu, luruskan niatmu, perkuat ilmumu. Karena medan dakwah tidak menerima orang yang tidak bisa apa-apa
kecuali mereka yang mau belajar sungguh-sungguh.
Muhammad Aqil Abdillah, S.H.
Kalimantan Tengah 07 Desember 2025

